Mengapa Al-Qur'an bisa menggetarkan satu hati namun tak terasa apa-apa di hati yang lain?
Salah satu tempat paling jujur untuk mengukur kondisi hati adalah ketika Al-Qur'an dibacakan. Pernahkah kita duduk dalam sebuah majelis, mendengar ayat-ayat Allah dilantunkan, lalu merasakan sesuatu bergerak di dada? Bukan karena suara sang qari yang merdu, bukan karena suasana yang hening — tapi karena hati kita sungguh-sungguh hadir, dan tiba-tiba merasakan bahwa ayat itu seolah diturunkan untuk kita, hari ini, di saat ini.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Innamal mu'minūna alladzīna idzā dzukiral-lāhu wajilat qulūbuhum, wa idzā tuliyat 'alaihim āyātuhu zādathum īmānā.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka."
— QS. Al-Anfal: 2
Al-Qur'an adalah surat cinta dari Dzat yang paling mencintai kita, diturunkan agar kita mengenal-Nya, memahami diri kita sendiri, dan menemukan jalan pulang. Allah sendiri menegaskan tujuan penurunannya:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
Kitābun anzalnāhu ilaika mubārakun liyaddabbarū āyātih.
"Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka merenungkan ayat-ayatnya."
— QS. Shad: 29
Maka kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri dengan jujur: apakah Al-Qur'an menjadi sahabat harian kita, atau sekadar pengisi waktu di bulan Ramadan? Apakah satu ayat masih mampu membuat kita berhenti sejenak, merenung, bahkan menangis — atau ia hanya lewat di telinga tanpa sempat singgah di jiwa?
Hati yang hidup akan merindukan Al-Qur'an — bukan sekadar membacanya sebagai ritual yang harus diselesaikan.
Dan kerinduan itulah yang biasanya membawa kita ke tempat berikutnya — yang tidak kalah penting sebagai cermin bagi kondisi hati kita.